Home > IDOLA > Kartini Sebenarnya Adalah Remaja Galau

Kartini Sebenarnya Adalah Remaja Galau

kartini galau

Putri dari seorang priyayi yang sempat minder ketika ditanya “kamu anak dari ibu yang mana?”. Ayah Kartini memiliki lebih dari satu istri dan itu yang membuat Kartini merasa galau, mungkin untuk yang pertama kali. Ia sudah memikirkan tentang kesetaraan antara wanita dan laki-laki dari lingkungan keluarganya sendiri.

Kegalauan Kartini bertambah ketika harus dipingit sejak remaja. Di masa remaja dengan sisa keriaan anak-anak ia harus mematuhi peraturan ala priyayi. Kartini harus sekolah, belajar dan bergaul pada lingkungan yang terbatas.

Sebagai seorang manusia dengan jiwa yang seharusnya bebas, Kartini harus mengalah pada kepatuhannya kepada Ayahnya yang sangat dicintai. Ia galau antara mengikuti keinginannya untuk menjadi manusia yang bebas mengembangkan diri atau mengabdi kepada aturan-aturan. Tapi hal inilah yang pada akhirnya memperkaya pemikirannya tentang kesetaraan hak dan emansipasi wanita. Kartini yang cerdas dan kritis telah terlatih memaknai kenyataan dalam kehidupannya sendiri untuk membaca apa yang dialami orang lain di luar sana.

Kartini tak pernah lepas dari Galau. Termasuk saat harus menerima dijodohkan dengan seorang pria yang tidak ia kenal dan cintai sebelumnya. Usia Kartini masihsangat muda dan ia harus menikah dengan laki-laki pelaku poligami. Jiwa Kartini memberontak. Tapi kasih sayang kepada orang tuanya membuatnya menerima pernikahan di saat ia ingin mengembangkan diri.

Hidup penuh kegalauan, dipingit dengan banyak aturan, berteman dengan keterbatasan ruang untuk melihat dunia luar termasuk sekitar tempat tinggalnya sendiri ternyata tak membuat Kartini menjadi wanita yang kerdil. Sebaliknya ia menjadi wanita yang mampu menangkap pesan dari dunia luar. Kartini menjadi wanita yang menguasai banyak pengetahuan.

Pikirannya melesat jauh membawanya memaknai kejadian-kejadian yang ia alami sebagai inspirasi untuk mewujudkan cita-citanya.

Terus apa yang membuat remaja galau itu bisa membaca dunianya saat itu?.

Jawabannya adalah Buku.

Kartini tumbuh dan berkembang karena buku.

Menjalani keseharian dengan penuh rasa galau, ia sangat beruntung bisa membaca banyak buku yang pada zaman itu adalah buku-buku berbahasa asing dari Eropa. Tak susah baginya yang keturunan priyayi untuk mendapatkan buku-buku yang bermanfaat.

Lewat buku, Kartini akhirnya tak hanya mahir menguasai beberapa bahasa asing, tapi juga mampu menyerap makna tentang kehidupannya dan kehidupan kaumnya.

Ketika membaca tentang kehidupan bangsawan dan rakyat jelata dari Eropa, Kartini mencoba membawanya ke dalam kehidupannya. Saat itulah gagasannya tentang emansipasi dan kesetaraan semakin bertambah. Ia bisa menarik kesimpulan bahwa ketimpangan antara bangsawan dan rakyat jelata sama dengan apa yang terjadi di kehidupannya yakni jurang antara priyayi dan rakyat biasa, antara wanita dan laki-laki.

Dari pengetahuan-pengetahuan yang disadapnya dari buku, Kartini tampaknya tumbuh menjadi penganut universalisme.

Ia merasakan keterbatasan hidup dalam pingitan maka ia tak ingin wanita-wanita lain mengalaminya. Ia merasakan minder lahir dari seorang ibu yang bukan istri pertama ayahnya, maka ia pun bisa merasakan jika orang lain mengalaminya. Ia merasakan kegalauan saat harus menikah dan dipoligami, maka ia pun tak ingin kaumnya mengalami hal yang sama.

Di sisi lain ia pun ingin kaumnya merasakan keberuntungan yang sama dengan yang ia dapatkan. Kartini mengenyam pendidikan yang baik meski terbatas, maka ia pun ingin wanita-wanita lain mendapatkan pendidikan. Ia tak suka jurang antara priyayi dan rakyat biasa, maka ia pun menghendaki hak yang sama. Ia merasakan ketimpangan hak antara wanita dan laki-laki, maka ia pun menghendaki emansipasi.

Semua pemikiran Kartini bermula dari kegalauan hidupnya sendiri dan kemudia berkembang berkat pengetahuan yang ia dapatkan dari membaca buku.

Tak banyak yang tahu jika berkat membaca banyak buku, Kartini berkembang menjadi wanita yang juga memahami banyak masalah.

Dalam surat-suratnya yang ia kirim kepada sahabat-sahabatnya, Kartini tak hanya mengajak berdiskusi tentang kesetaraan hak wanita dan laki-laki. Kartini juga kritis memaknai hukum hingga agama. Dari pengetahuan yang ia peroleh dari buku, Kartini bahkan mengkritik korupsi dan kesewenang-wenang yang dilakukan kaum bangsawan atau priyayi.

Kartini sebenarnya lebih dari tokoh emansipasi wanita. Apa yang ia alami dan bagaimana ia menyikapinya juga sangat relevan sebagai contoh bagi remaja masa kini. Membaca banyak buku dari Eropa, berteman dengan sahabat-sahabat beda negara dan bergaul dengan kaum priyayi yang sedikit banyak telah terpengaruh budaya asing, Kartini mampu mempertahankan jati dirinya sebagai wanita Jawa. Begitulah semestinya anak muda dan remaja Indonesia bersikap dan mengembangkan diri di tengah globalisasi saat ini.

Dengan buku Kartini mampu mengolah kegalauan masa remajanya menjadi inspirasi pemikiran untuk memperjuangkan hak kaumnya yang tak seberuntung dirinya.

Berkat pengetahuan yang disadapnya dari Buku, Kartini menjadi negosiator yang handal. Ia menikah dengan laki-laki yang dijodohkan dengan syarat keinginan membangun sekolah bagi kaumnya. Ia ingin wanita-wanita lain di sekelilingnya berkembang dan maju.

Pada akhirnya Kartini menulis buku berjudul “Dari Gelap Menuju Terang” yang entah mengapa setelah diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Buku itu memiliki banyak makna, salah satunya adalah “buku membuka jendela pemikiran manusia menjadi lebih luas dan terang memahami kehidupan”.

Ibu Kartini adalah remaja galau yang memiliki pengetahuan terang dan kritis karena membaca buku.


@lifestyle.kompasiana.com

(Visited 545 times, 4 visits today)

Leave a Reply

*