Rokok elektrik atau vape biasa disebut remaja kita yang sedang tren punya dua kelemahan, logam beracun dan nikotin cair yang berbahaya bagi anak.

Rokok elektrik ternyata bukan alternatif pengganti rokok. Konsumsi rokok elektrik justru membuat para remaja cenderung senang merokok.

Itulah hasil riset yang terbit di jurnalĀ Pediatrics pada Senin (27/7/2015). Hasil riset juga menunjukkan konsumsi rokok elektrik meningkat tiga kali lipat di kalangan anak sekolah menengah di AS pada kurun 2011-2014.

Riset ini dilakukan para peneliti Universitas Southern California terhadap sekitar 2.000 pelajar remaja di California.

24 persen responden mengaku pernah mengonsumsi rokok elektrik dan 9,6 persen mengaku masih menghisap rokok elektrik. Sementara 18,7 persen responden pernah menghisap rokok tembakau dan 5,7 persen masih melakukannya.

Salah satu contoh rokok elektrik

Salah satu contoh rokok elektrik

Jessica L Barrington-Trimis, PhD, kepala riset ini, mengaku terkejut melihat hasil karyanya. Sebab 40,5 remaja pengguna rokok elektrik mengatakan tiga atau empat orang kawannya juga menghisap rokok elektrik.

Artinya, rasa setia kawan dan solidaritas terjadi 37 kali dibanding kalangan remaja perokok tembakau. Selain itu, menurut Jessica, remaja pengguna rokok elektrik ini juga berasal dari keluarga yang menggunakan produk sejenis.

Ngebul banget bos?

Ngebul banget bos?

“Yang membuat prihatin adalah peran rokok elektrik dalam merekrut kelompok baru perokok tembakau. Data kami menunjukkan itu,” kata Jessica.

Hmm, yang mana pilihanmu? Rokok tradisional, rokok elektrik, atau tidak merokok sama sekali. Pilihanmu yang penting tidak merugikan orang lain.